Macan Tutul Jawa Terjaga Ekosistemnya: Mengenal Upaya Konservasi Lembaga di Indonesia
Seorang petani di hutan Mendolo membuktikan bahwa pemantauan satwa liar oleh masyarakat bisa menjadi bentuk konservasi yang nyata.
Kamu mungkin berpikir konservasi satwa liar selalu urusan peneliti atau pemerintah. Tapi di Desa Mendolo, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, seorang petani membuktikan bahwa tangan masyarakat sendiri bisa menjaga penghuni hutan yang selama ini hanya hidup dalam cerita.
Dari Cerita Menjadi Bukti
Rohim (40), petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Muda Mendolo, memasang sendiri kamera jebak di hutan dekat desanya. Selama sebulan, kamera itu merekam sepasang macan tutul jawa, satwa endemik yang orang tuanya pernah lihat langsung di masa lalu. Sebelumnya, warga hanya menemukan cakaran dan kotoran. Dugaan tetaplah dugaan tanpa bukti visual, sampai rekaman itu muncul.
Bagi masyarakat Mendolo, kehadiran macan tutul bukan ancaman. Tidak ada laporan macan memangsa ternak atau mendekati permukiman. Ketersediaan satwa mangsa di hutan masih cukup, jadi macan tutul baik-baik saja selama hutan masih menyediakan makanan dan ruang hidup.
Ancaman Datang dari Manusia
Rohim melihat ancaman terbesar justru dari manusia, terutama perburuan malam hari. Kurnia Ahmadin, peneliti biodiversitas dari SwaraOwa, menjelaskan bahwa kemunculan macan tutul dalam kamera jebak menandakan ekosistem Mendolo masih mampu menjadi habitat satwa tersebut. Kawasan itu masih terhubung dengan bentang alam di sekitarnya, termasuk Gunung Lumping.
Namun ekosistem itu tidak bebas ancaman. Perburuan satwa mangsa seperti punai penganten dan punai gading bisa memengaruhi kelangsungan predator puncak. Fragmentasi hutan akibat pelebaran jalan dan aktivitas manusia juga berpotensi memutus ruang jelajah macan tutul dan satwa arboreal seperti owa.
Masyarakat sebagai Penjaga Ekosistem
SwaraOwa mendampingi masyarakat Mendolo sejak akhir 2022. Sebagian anak muda yang kini terlibat dalam konservasi sebelumnya pernah jadi pemburu atau pengepul burung. Kurnia Ahmadin menegaskan bahwa masyarakat di sekitar hutan harus jadi bagian penting dalam menjaga keseluruhan ekosistem, bukan hanya satu jenis satwa. Hutan Mendolo sendiri masih dimanfaatkan masyarakat untuk memanen kopi, rotan, dan madu, sehingga hubungan manusia dengan hutan berlangsung hampir setiap hari.
Hari ini, kamu bisa mulai peduli pada konservasi dengan mengenali upaya masyarakat lokal seperti Paguyuban Petani Muda Mendolo dan lembaga seperti SwaraOwa. Nama-nama ini bukan sekadar cerita, mereka sudah membuktikan bahwa menjaga hutan bisa dimulai dari tangan orang yang tinggal di dalamnya.
